by: ian-matapena
Soeharto adalah orang “terpenting” di republik ini. Itulah alasan mengapa jika mantan presiden seperti Soekarno, B.J. Habibie, Gus Dur, dan Megawati – termasuk SBY kalau sudah turun – jatuh sakit tak akan dirawat oleh Tim Dokter Kepresidenan dan dibiayai oleh negara.
Semua media menyoroti kondisi kesehatan mantan penguasa Orde Baru tersebut – melaporkan dari waktu ke waktu setiap perkembangannya – bahkan membumbui dengan profil dan kisah-kisah seputar masalah Soeharto yang disertai komentar-komentar dari para tokoh dan masyarakat tentang kondisi kesehatan maupun kepemimpinan Soeharto.
Pejabat negara dan mantan pejabat negara pun tak kalah hebohnya – seakan berlomba dengan para kolega dan keluarga “eyang sepuh” – mereka berbondong-bondong menjenguk mantan atasannya tersebut di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Bahkan Presiden SBY dan Wapres Yusuf Kalla harus menjadwal ulang kegiatannya “hanya” karena kondisi Soeharto dilaporkan kritis.
Ini merupakan fenomena yang menarik, mengingat reputasi Pak Harto sempat hancur ketika reformasi bergulir. Tapi kini ketika mantan pemimpin rezim Orde Baru tersebut tergolek di Rumah Sakit, dukungan dan doa untuk kesembuhannya mengalir dari berbagai penjuru negeri.
Saya tak mau berprasangka, tapi menurut saya ini lebih mirip skenario rehabilitasi nama baik – suatu kondisi yang direkayasa sesuai dengan pepatah jawa “mikul dhuwur mendhem jero” yang dulu sering diucapkan Soeharto pada masa-masa menjelang akhir jabatannya. Agar rakyat selalu mengingat jasa-jasa para pemimpinnya serta melupakan semua dosa dan kesalahannya.
Mungkin ungkapan tersebut benar dan hal ini bukanlah masalah besar. Tapi pada akhirnya saya tahu mengapa reformasi berjalan setengah hati bahkan setengah mati. Karena, sampai hari ini Soeharto tetaplah “Presiden” negeri ini. Dan semua euforia reformasi hanyalah sebuah manajemen konflik yang mengarah pada satu konklusi, satu solusi – kembalinya Orde Baru.
Pertanyaan saya, apa yang terjadi dengan Indonesia seandainya Pak Harto meninggal? Tampaknya jalan akan semakiin panjang. Tapi mungkin saja saya salah, dan semoga saya memang salah.
Akhir kata, Pak Harto adalah pahlawan – yang ditangannya juga – entah berapa banyak jiwa terlepas untuk “mengisi kemerdekaan.” Titip salam buat beliau, sang Bapak Pembangunan, dari bocah-bocah pewaris negeri ini.
Semua media menyoroti kondisi kesehatan mantan penguasa Orde Baru tersebut – melaporkan dari waktu ke waktu setiap perkembangannya – bahkan membumbui dengan profil dan kisah-kisah seputar masalah Soeharto yang disertai komentar-komentar dari para tokoh dan masyarakat tentang kondisi kesehatan maupun kepemimpinan Soeharto.
Pejabat negara dan mantan pejabat negara pun tak kalah hebohnya – seakan berlomba dengan para kolega dan keluarga “eyang sepuh” – mereka berbondong-bondong menjenguk mantan atasannya tersebut di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Bahkan Presiden SBY dan Wapres Yusuf Kalla harus menjadwal ulang kegiatannya “hanya” karena kondisi Soeharto dilaporkan kritis.
Ini merupakan fenomena yang menarik, mengingat reputasi Pak Harto sempat hancur ketika reformasi bergulir. Tapi kini ketika mantan pemimpin rezim Orde Baru tersebut tergolek di Rumah Sakit, dukungan dan doa untuk kesembuhannya mengalir dari berbagai penjuru negeri.
Saya tak mau berprasangka, tapi menurut saya ini lebih mirip skenario rehabilitasi nama baik – suatu kondisi yang direkayasa sesuai dengan pepatah jawa “mikul dhuwur mendhem jero” yang dulu sering diucapkan Soeharto pada masa-masa menjelang akhir jabatannya. Agar rakyat selalu mengingat jasa-jasa para pemimpinnya serta melupakan semua dosa dan kesalahannya.
Mungkin ungkapan tersebut benar dan hal ini bukanlah masalah besar. Tapi pada akhirnya saya tahu mengapa reformasi berjalan setengah hati bahkan setengah mati. Karena, sampai hari ini Soeharto tetaplah “Presiden” negeri ini. Dan semua euforia reformasi hanyalah sebuah manajemen konflik yang mengarah pada satu konklusi, satu solusi – kembalinya Orde Baru.
Pertanyaan saya, apa yang terjadi dengan Indonesia seandainya Pak Harto meninggal? Tampaknya jalan akan semakiin panjang. Tapi mungkin saja saya salah, dan semoga saya memang salah.
Akhir kata, Pak Harto adalah pahlawan – yang ditangannya juga – entah berapa banyak jiwa terlepas untuk “mengisi kemerdekaan.” Titip salam buat beliau, sang Bapak Pembangunan, dari bocah-bocah pewaris negeri ini.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar