09 Januari 2008

review untuk belajar menulis

KABAR UNTUK KAWAN
Oleh: ian_matapena

Hampir satu reformasi berjalan, tak satupun agenda tertuntaskan. Pemberantasan KKN, penegakan supremasi hukum, dan reformasi birokrasi berjalan tak sesuai harapan. Semua agenda hanya jadi retorika bukan langkah nyata. Ini tentu bukan kabar gembira bagi para pelaku sejarah reformasi yang hidupnya dirampas, namanya ditenggelamkan, dan gerakannya dibelokkan – termasuk para keluarga korban. Jika dihitung, entah berapa banyak nyawa melayang sejak negeri ini diproklamirkan – untuk sebuah label “mengisi kemerdekaan.”

Memang, pasca lengsernya Soeharto – kita berpisah jalan. Sebagian besar kembali ke bangku kuliah dan melanjutkan hidupnya. Sebagian lagi meniti karier – masuk partai politik, membentuk LSM, atau menjadi kontraktor. Dan beberapa orang yang tersisa memilih untuk tetap menjadi oposan – dengan resiko teralienasi dari uang dan kekuasaan.

Dan di masa pergolakan saat ini, ketika reformasi berjalan setengah hati atau bahkan setengah mati – kita tak mungkin berdiam diri. Ada sebuah tanggung jawab sosial yang harus dipikul sebagai warga masyarakat yang terdidik dan “tercerahkan.” Transformasi, reinterpretasi dan integrasi merupakan jawaban yang tak terelakkan. Dimana untuk itu, kita harus kembali ke periferi.

Tapi bagaimana kita melakukannya di tengah pusaran arus informasi – dibawah simbol globalisasi – menggerus tembok tradisi dan bangunan budaya bangsa kita. Padahal, di sisi lain kita juga harus berjuang untuk “tidak mati” oleh kelaparan dan kekejaman. Sulit memang, tapi bukan berarti tak ada harapan. Rekan-rekan aktivis pemuda dan mahasiswa masih bisa melanjutkan hidup tanpa harus “terpaksa menggadaikan idealisme.” Salah satu caranya adalah menjadi penulis. Karena dengan menulis kita tidak hanya bisa mendapatkan penghasilan, tapi kita juga bisa terus berkarya – menyampaikan gagasan, mengeksplorasi pemikiran, mengembangkan kreativitas, dan menganalisis masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.

Menulis tak membutuhkan modal besar, kita bisa mulai dari sekarang dengan menulis apa saja – pengalaman, pemikiran, atau ketertarikan kita. Untuk belajar menulis kita bisa belajar dari buku, teman, tempat pelatihan, atau melalui internet. Sebagai referensi, rekan-rekan dapat membuka situs BelajarMenulis.com. Di situs tersebut, kita bisa belajar menulis fiksi atau non fiksi secara online dari orang-orang yang ahli di bidangnya – dan menemukan jalan hidup seorang penulis.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan aktivis gerakan pemuda dan mahasiswa di seluruh tanah air. Seperti orang bilang, “logika tak akan berjalan tanpa logistik.” Selamat berjuang!



1 komentar:

Eko Nurhuda mengatakan...

Pak, saya belajar dari review ini ya? Soalnya saya juga mo ikutan lombanya nih. trims and sukses ya...

Salam,
Ecko